gue yakin hampir semua menjawab ingat.
kenapa gue begitu yakin? karena menurut beberapa sumber yang berasal dari media cetak maupun elektronik, AADC adalah salah satu film fenomenal yang akhirnya mengaktifkan kembali dunia perfilman Indonesia yang sebelumnya sempat vakum.
tapi bukan itu yang mau gue omongin. bukan tentang kehebatan sebuah film garapan Rudi Soedjarwo yang dibintangi si ganteng Nicholas Saputra dan kembaran gue, si Dian Sastro, melainkan nilai persahabatan yang tercipta di dalamnya.
untuk cowo mungkin ga terlalu suka sama film menye-menye itu. terlalu klise lah, terlalu cengeng lah, atau mungkin terlalu ngayal lah, itu yang ada dipikiran mereka dan mungkin itu juga yang ada dipikiran gue. gue sempet bilang begitu sama beberapa orang teman. dan jawaban mereka ada yang pro dan ada yang kontra juga sama gue.
dan ini beberapa list pertanyaan yang gue ajukan ke pembaca semua (tolong jawab via comment):
1. mungkin ga sih dalam persahabatan mereka emang harus terus bareng-bareng? (konser PAS, pulang pergi sekolah, ke mall, etc)
2. rahasia seseorang harus semuanya tau yaaaah? (agenda yang isinya diary lima pemain AADC)
3. kenapa sahabat malah harus turun tangan nyelesein masalah sahabatnya yang lain dengan tindakan yang agak di luar batas? (si tomboy pengen nyamperin rangga saking sengaknya)
4. yakin gitu yang namanya sahabat sanggup terus ada buat sahabatnya? 24 jam telpon berdering akan diangkat dan 24 jam juga pintu rumah selalu terbuka untuk seorang sahabat?(penawaran cinta buat mily)
jujur, gue tersentuh sama cerita itu. gue juga bakal sama bahagianya kalo emang itu terjadi di kehidupan nyata gue. tapi faktanya dalam sebuah persahabatan kita ga melulu saling mendukung. kita ga melulu punya pendapat yang sama atas penyelesaian suatu masalah, dan setiap orang berhak bukan punya rahasia dan waktunya sendiri?
gue ga pernah nyesel punya sahabat macem hania yang modis nya setengah matiiii, dan kalo ngomong dalem ampun-ampunan. gue juga ga pernah pengen ngapus seorang rieska febriana sesering apapun gue ribut sama dia, sebanyak apapun waktu dia bercerita dan gue jarang punya kesempatan itu. gue ga pernah nyesel roja ga ada 24 jam buat gue. dan gue fine-fine aja kalo di suatu waktu gue harus ke gramed sendiri karena yang lain lebih suka ke bioskop atau tempat hang out lainnya.
bukan kah itu seharusnya persahabatan?
dan pada akhirnya kita bener-bener ga akan pernah ada untuk mereka lagi, karena Tuhan udah nentuin jalan untuk masing-masing makhluknya.
sebuah senyum udah lebih berarti dari tulisan tangan atas sebuah cerita. dukungan jauh lebih berguna dari fisik kita. bahkan semenit pun udah lebih dari cukup ketika waktu itu dateng.
waktu yang memiliki nama PERPISAHAN.